Terlahir sebagai anak kedua dari sepuluh bersaudara (7 pria dan 3 wanita) di sebuah desa miskin pinggiran kota Kebumen tanggal 03 Maret 1964. Kedua orang tuanya berdagang di Pasar Kebumen, sehingga tidak heran jika beliau juga mewarisi gen pedagang dari orang tuanya. Bahkan dari 10 saudaranya cuma 1 saja cewek saja yg menjadi PNS. Sebenarnya 6 saudara yang lainnya dulu juga pernah berkrier sebagai pegawai. Baik sebagai Pegawai BUMN maupun pegawai Bank Swasta Nasional. Tapi karena naluri dagangnya lebih dominan, mereka memilih resign dan terjun sebagai wiraswastawan. Maklumlah, jika ditarik garis trah ke atas, kedua kakek dan nenek (baik dari Ayah maupun Ibunya) juga sebagai Pedagang.

Bapak dari dua orang anak laki-laki dan kakek seorang cucu ini, pendidikan SD-nya ditempuh di kampung halamannya, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP N 1 Kebumen dan SMA N 1 Kebumen (yang keduanya merupakan sekolah favorite di kotanya). Nama yang diberikan oleh orang tuanya cukup pendek yaitu DWIYANTO (saja). Namun setelah menikah tanggal 07 Juli 1991, namanya ditambah embel-embel dari trah keluarga besar ayahnya, menjadi DWIYANTO AKHSAN HUDI. Konon nama adalah do’a. Kata Akhsan berarti BAIK dan HUDI artinya baik/bijak. Rupanya kedua orang tuanya berharap anak-anaknya selalu berbuat baik dan bijak.

Tamat SMA bercita-cita menjadi Insinyur Geologi di UGM, karena ingin bekerja di Pertamina seperti tetangganya. Tapi test 2 kali gagal dan akhirnya pasrah cukup kuliah di juruan Fisika IKIP Yogyakarta.

Sejak kuliah sosok yang gemar bermain golf dan travelling ini, memang sudah menunjukan bakat bisnisnya. Biaya hidup dari orang tua selama kuliah cuma minta setahun saja. Mulai semester 3 (tahun 1985) sudah mencoba dagang roti keliling dengan sepeda ontel, kemudian menjadi guru privat ke rumah-rumah dan bekerja freelance di sebuah Biro Percetakan ASCO OFFSET, pernah juga menjadi Sales Obat (Detailler) dan Sales Buku Widya Dara dari Solo.

Dari berbagai pengalaman itu, terutama saat menjadi Sales Buku, ia melihat suatu peluang bisnis karena di sekolah dan toko buku belum ada buku yang khusus berisi soal-soal dan trik menjawab soal dengan Metode CERDIK = CEpat, Ringkas dan metoDIK.

Dari hasil buah pikir dan pengalaman sebagai Tutor Privat di Primagama menghasilkan 2 hal. Pertama, tentang teknik bagaimana menjawab soal-soal dengan cara yang cepat. Kedua, betapa berartinya sebuah Persahabatan.

Dengan modal sifatnya yang supel, Bapak yang hoby makan padang ini, berkawan akrab dengan teman-teman sesama Tutor dari bidang study yang lain. Ditambah pengalaman kerja di Percetakan Besar, mendidiknya ilmu bagaimana cara mencetak buku. Mulai dari penyusunan naskah sampai dengan penyampulan buku. Hal itu menumbuhkan ide untuk memproduksi buku-buku sendiri.

Bagaimana dengan modal usahanya? Karena sudah bertekad untuk mandiri, meskipun orang tuanya cukup berada, maka Beliau berjanji tidak akan minta atau pinjam modal kepada orang tua karena khawatir jika kelak usahanya sukses, saudara-saudaranya akan iri atau timbul kecemburuan jika pinjam modal kepada orang tua tapi tidak diberi. Kemudian bagaimana solusinya? Beliau ajak tiga orang teman kuliah untuk patungan modal.

Bagaimana dengan pemasarannya? Karena selama menjadi mahasiswa tinggal di Asrama yang berasal dari berbagai daerah dan Beliau juga seorang Aktivis di HMI dan KSR-PMI, maka banyak teman-teman dari berbagai pelosok yang bisa dimanfaatkan menjadi Sales di daerah asalnya. Caranya pada saat mereka mudik dititipi sampel buku dan Surat Pesanan buku.

Alhamdulillah. Buku pertama SIAP MENGHADAPI EBTANAS SMP Tahun 1986 sukses besar dengan total oplah hampir 40 ribu eksemplar. Kemudian tahun 1987 menambah variasi produk untuk EBTANAS SMA yang di bagian Cover belakang buku diisi promosi bimbingan belajar satu bulan setelah EBTANAS. Subhanalloh walhamdulillah kedua 2 varian buku tersebut sukses diterima pasar.

Kemudian tahun 1988 usahanya bertambah satu lagi yaitu Bimbingan Belajar GAMA EXACTA dengan Kantor Perdana di Jl. Gejayan 23, Mrican, CT Yogyakarta.

Masih belum puas dengan usaha Penerbitan dan Bimbingan Belajar, pada tahun 1988 juga memproduksi Kartu Lebaran yang berisi kata-kata mutiara dan puisi dari Sang Nabi Sastra Kahlil Gibran. Produk ini lebih bertujuan menyaingi produk Kartu Harvest dari Andre Wongso. Karena produknya mirip dengan Harvest, maka untuk memenangkan pasar, maka harus punya ANY SOME DIFFERENCE. Bagaimana caranya? Sosok yang kreatif dan pengagum Ciputra ini membedakan Kartu Lebaran produknya (GEvest) dengan memberi daya tarik berupa Kupon Berhadiah 5 unit Sepeda Motor Suzuki RC. Dan hasilnya luar biasa meledak selama hampir 4 tahun.